Kisah CPNS Kemenag 2018 - Bagian 2




Kisah perjalanan saya mengikuti #CPNSKemenag2018 bagian 1 sampai pada tahap SKD. Tahap berikutnya yakni SKB yang juga menguras tenaga dan pikiran serta menegangkan. Simak baik-baik cerita ini kawan-kawan semua ...

Tahap Seleksi Kompetensi Bidang (SKB)

Setelah lega melewati tahap SKD, istri memasuki usia kehamilan 7 bulan. Dalam tradisi kami di Jawa, terdapat penyelenggaraan “Mitoni” atau “Tinggeban”. Mitoni (bahasa jawa: tujuh) atau men-tujuh-kan dalam bahasa Indonesia, merupakan tradisi memperingati 7 bulan kehamilan yang pertama. Ini salah satu pengeluaran yang sudah direncanakan, sehingga akhirnya saya memutuskan memilih ikut CPNS Kemenag Bengkulu karena alasan pertimbangan finansial. Saya dan istri pulang untuk melaksanakan tradisi tersebut, dan saya kembali ke Bengkulu sehari setelah acara tersebut selesai. Istri tetap di Jawa karena kami memutuskan untuk lahiran di Jawa. 

Ada satu bagian kisah yang menarik saat kami pulang ke Jawa. Saya rasa ini perjuangan yang sebenarnya. Usia 7 bulan lebih saat itu, kami masih dimudahkan ketika naik pesawat karena telah mengantongi surat ijin dokter di Bengkulu. 

Nah, yang kecolongan adalah ketika naik kereta dari Jakarta menuju Pemalang, Jawa Tengah. Aturan terbaru pada saat itu ternyata batas maksimal usia naik kereta untuk ibu hamil adalah 7 bulan, padahal saat itu istri sudah lebih dari 7 bulan. Istri pun sempat “ditahan” pihak kesehatan Stasiun Senen saat itu. Saat itu dilakukan pemeriksaan tanpa melibatkan saya selaku suami, saya pun mulai kalut dan memaksa untuk memasuki ruang pemeriksaan karena terlalu lama waktu pemeriksaannya. Saat saya hampir memasuki ruangan, alhamdulillah istri keluar dari ruangan kesehatan dengan senyum membawa ketenangan. Kata istri, di dalam ruang tersebut dia dinasehati dan diminta berjanji untuk tidak mengulangi hal tersebut. Kami tidak tahu perkara itu, jadi ya maafkan kami petugas Stasiun Senen ya hehe.

Beberapa waktu kemudian, saya kembali ke Bengkulu. Saya men-jomblo di Bengkulu karena istri di Jawa setelah acara Mitoni hehe. Tiba saat pengumuman SKD yang lama berlarut-larut, lantaran banyak yang tidak memenuhi nilai ambang batas, kemudian muncul peraturan baru tentang perankingan. Istri yang sudah pesimis karena nilai SKD yang kecil, ternyata mengejutkan. Pengumuman rilis dan nama kami ada semua dalam pengumuman SKD. Itu artinya kami lolos, alhamdulillah ... kalau saya saat itu memang sudah optimis hehe. Berbeda dengan istri yang sudah pesimis, ternyata Allah punya rencana baik. 

Istri walau tidak memenuhi nilai ambang batas, dia ternyat masuk dalam kategori P2/L. Nah, masalah berikutnya, istri sedang hamil tua dan berada di Jawa. Kami bermusyawarah tentang kelanjutan istri dalam SKB. Hasil musyawarah didapatkan bahwa kami harus ikhlas yakni istri mundur dari perhelatan Seleksi Kompetensi Bidang (SKB) hehe. Kami berharap istri akan mendapatkan rejekinya nanti di saat yang tepat dan biarkan suamimu dulu yang mendapatkan status PNS ini hehe.

Psikotes, Microteaching, dan Wawancara

Pengumuman penyelenggaraan SKB #CPNSKemenag2018 saat itu menghasilkan keputusan bahwa tanggal 17 Desember 2018 sebagai waktu SKB. Tahapan tersebut terdiri dari Psikotes, Microteaching, dan Wawancara. Padahal tanggal 13 Desember 2018 saat itu merupakan hari penerimaan rapor di tempat saya mengajar, artinya hari itu seharusnya hari dimana aku juga pulang kampung dan berkumpul bersama dengan keluarga di Jawa. Lantaran ini peluang besar karena mendapatkan posisi P1/L satu-satunya dari 6 formasi yang dibutuhkan, saya tidak akan saya biarkan lewat begitu saja dalam kehidupan ini, walaupun harus merelakan beberapa hari liburan bersama keluarga. Waktu pelaksanaan SKB yang tidak diketahui dari jauh-jauh hari, membuat saya belum memesan tiket untuk pulang kampung karena pelaksanaan SKB-pun belum bisa dipastikan sampai berapa hari kemudian. 

Saya tinggal di asrama MAN Insan Cendekia Bengkulu Tengah, yang ketika liburan anak-anak juga tidak berada di asrama lagi. Kondisi penantian saya dari tanggal 13 menuju tanggal 17 Desember 2018 begitu sepi sekali, bahkan harus masak sendiri karena tempat tinggal kami yang berlokasi di kawasan perkebunan sawit. Namun, hal tersebut menjadi kesan tersendiri dalam lika-liku perjalanan mengikuti #CPNSKemenag2018 ini.

SKB berjalan dengan lancar, hari pertama Psikotes, dan hari kedua tes mengajar disusul wawancara sampai sore hari baru selesai. Tidak ada yang janggal saat itu kami rasakan sebagai peserta SKB. Saya  belum sempat memesan tiket pesawat untuk pulang ke Jawa karena tidak pastinya waktu pelaksanaan SKB.

Harga tiket pesawat sungguh mahal, karena pada saat itu bertepatan dengan masa liburan sekolah. Jiwa suaminya keluar, alih-alih bertujuan untuk meminimalisir anggaran rumah tangga sebagai bentuk persiapan istri yang mau lahiran hehe. Saya memutuskan untuk pertama kalinya naik bus dari Bengkulu menuju Jakarta. Rencana berjalan dengan mulus. Sebelum pulang menuju asrama, saya menyempatkan membeli karcis bus “Putra R*flesia” (sengaja disamarkan agar tidak dikira sponsor hehe). Biaya naik bus dibandingkan naik pesawat saat itu seperti perbandingan 1 : 4. Kebayang kan perbandingannya, maka naluri suami muncul disitu hehe. 

Perjalanan bus Bengkulu-Jakarta untuk pertama kalinya sungguh menarik, selama 25 jam terasa betul menyusuri alam hutan, pantai, dan lautan yang terasa asing selama ini. Perjalanan pulang dilanjutkan dengan kereta dan sampailah di rumah Pemalang tanggal 20 Desember 2018 jam 21.00 WIB. Sempat tidur semalam, keesokan harinya mencoba mengurus legalisir dari SD sampai dengan SMA, sebagai persiapan jika lolos tahap SKB dan dinyatakan lanjut menuju pemberkasan hehe. 

Tiba saat itu pukul 11.00 WIB di tanggal 21 Desember 2018, saya mendapati kabar mengagetkan bahwa SKB untuk tes wawancara harus diulang atau dilakukan wawancara kedua dengan pewawancara yang berbeda. Oh My God, panitia CPNS Kemenag Bengkulu hanya menyediakan waktu di tanggal 21 Desember 2018 pukul 13.30 s.d. selesai dan 22 Desember 2018 08.00 WIB s.d. selesai. Hello ..... saya berada di Jawa bro. Ini bagian yang saya pikir nikmaaaaat sekali. Baru sampai di kampung halaman, 12 jam berikutnya dapat kabar mengejutkan harus kembali lagi ke Bengkulu. 

Kalau bukan posisi saya yang buat saya optimis karena P1/L satu-satunya, mungkin pada saat itu saya akan mundur. Allahu Akbar, setelah berkabar dengan istri tentang pengumuman tersebut, kami segera berdiskusi dan memutuskan. Keputusannya adalah memesan tiket ke Bengkulu saat itu juga. Luar biasa, tiket kereta dan pesawat langsung dipesan hari Jumat dengan perhitungan hari Sabtu sampai di Bengkulu. Pesanan tiket kereta pada hari itu pada jam malam yakni jam 21.00 WIB. Saya hitung bahwa saya hanya 24 jam berada di kampung halaman saya haha. Alangkah lelahnya saat itu, bahkan lelahnya perjalanan pulang sebelumnya pun belum selesai dan saya harus menuju ke Bengkulu lagi. Subhanallah.

“Kita manusia hanya bisa berencana, namun Allah lah yang berkehendak”. 

Penggalan nasehat islami tersebut rasa-rasaya sangat tepat dengan kondisi saya saat itu. Bagaimana tidak? Saya sudah merencanakan liburan, berharap tabungan tetap ada dengan meminimalisir biaya transportasi dari yang biasanya naik pesawat menuju bus. Namun, Allah berkehendak lain, saya harus naik pesawat, dengan harga yang berlipat-lipat karena pemesanan yang mendadak hehe luar biasa. Bermodal kepercayaan itu, rasanya yakin betul bahwa itu semua adalah takdir Allah untuk saya saat itu. Saya mencoba memantaskan diri sebagai Calon PNS, dengan tetap sabar dan tawakkal, saya menjalani itu semua dengan senang hati.

Perjalanan kembali menuju Bengkulu telah dilalui, saya tiba di Bengkulu Sabtu pagi sekitar jam 11.00 WIB. Kebetulan portofolio sebagai modal saat wawancara dan kartu peserta yang asli saya simpan di asrama MAN IC dengan jarak 1 jam ke Bandara. Portofolio pun tidak ada saat maju pada wawancara tersebut, dan bahkan saya melobi panitia terkait kartu peserta yang saya print ulang dari kampung halaman. Alhamdulillah diperbolehkan. Kemudian sengaja saya rencanakan untuk mempersiapkan seragam hitam putih dan sepatu dari rumah di Jawa. 

Rencana berikutnya setelah sampai di Bandara langsung menyeberang dan menuju ke MAN 2 Kota Bengkulu sebagai tempat wawancara kedua tersebut. Alhamdulillah, semua rencana tersebut berjalan dengan lancar, dari pesawat yang tidak delay maupun kereta yang gangguan misalnya. 

Wawancara kedua berjalan dengan normal dan selesai sore hari itu juga dengan lancar. Sore itu, saya rencanakan untuk menginap di hotel semalam dan pulang langsung ke Jawa keesokan harinya karena desakan istri untuk segera pulang agar tidak terkurangi liburannya hehe. 

Alhamdulillah, saya sampai di kampung halaman kembali dengan selamat. Oiya saat itu, setelah saya naik bus pada perjalanan pulang kampung sebelumnya dengan menyeberangi Selat Sunda, ombak masih normal. Keesokan harinya baru terdengar kabar bencana Tsunami Banten. Alhamdulillah masih diberikan keselamatan. Oleh sebab itu, perjalanan ke kampung halaman setelah wawancara kedua menggunakan pesawat mengingat bencana tersebut saat itu masih terjadi.

Tiba saat pengumuman akhir, saya sudah berada di MAN IC karena memasuki semester dua setelah masa liburan selesai. Berada di asrama MAN IC yang tergolong pedalaman, kondisi sinyal pun juga seadanya. Kami memang terbiasa dengan sinyal E, terkadang H+ namun jarang dan untuk sekedar WA saja masih lemot. Begitu ramai pengumuman akhir muncul, saya langsung berusaha mencari sinyal dengan mencari tempat yang lebih tinggi. 

Saya keluar dari asrama di sekitar jam 10 malam, hanya untuk men-download pengumuman yang sangat dinanti-nanti. Perjuangan betul ya kawan ... Alhasil, unduhan belum selesai, saya minta istri yang di Jawa untuk mengecek dari Jawa lantaran sinyal disana stabil lancar. Setelah istri selesai mengunduh, saya segera menelpon dan alhamdulillah nama saya kokoh di peringkat 1 dari 6 formasi. Allahu Akbar ... Allah tak pernah mengkhianati usaha hambanya yang mencoba memantaskan diri menjadi ASN ini hehe.

Demikianlah sekelumit cerita ngalor-ngidul pengalaman saya mengikuti #CPNSKemenag2018 di Bengkulu. Semoga bisa menginspirasi dan menghibur kawan-kawan pembaca. Jika ada kelebihan, itu semua milik Allah. Namun jika ada kekurangan, itu semua milik hamba Allah yang banyak dosa ini, dan saya mohon ampun kepada Allah. Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Posting Komentar