Mengapa Aku Jadi Guru Sejarah?

Kisah perjalanan menjadi guru Sejarah, dari pilihan kuliah yang tak direncanakan, perjuangan masuk STAN, hingga pengalaman membentuk prinsip mengajar.
Kalau ditanya mengapa aku, penulis, menjadi guru Sejarah, sejujurnya aku tidak punya cerita yang keren. Hehe. Tidak ada cita-cita sejak kecil ingin menjadi guru, apalagi keinginan khusus untuk menjadi guru Sejarah. Ceritanya malah agak tidak sengaja.

Semua berawal ketika aku duduk di kelas XII, tahun 2009. Saat itu aku mulai memikirkan mau kuliah di mana dan mengambil jurusan apa. Salah satu jalur yang kuikuti adalah SPMU (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Unnes), tidak banyak yang aku ikuti mengingat biaya pendaftaran sekitar 300rb-an juga tergolong besar pada saat itu untuk kelas ekonomi keluargaku.

Sebenarnya, kalau melihat nilai dan prestasi selama SMA, aku punya modal yang lumayan. Aku pernah meraih peringkat ketiga OSN Ekonomi tingkat Kabupaten Pemalang dan melaju ke tingkat Provinsi Jawa Tengah, walaupun kalah ujungnya. Hehe. Di 4 kelas pada jurusan IPS, aku juga menjadi peringkat satu paralel. Sayangnya, urusan menentukan jurusan kuliah tidak sesederhana melihat nilai rapor atau daftar prestasi.

Guru BK di sekolahku waktu itu tidak terlalu aktif mengarahkan kami untuk mencoba jalur PMDK. Aku-pun tergolong pemalu untuk jadi aktif mencari informasi tersebut. Jadi, aku lebih banyak memikirkan pilihan sendiri, dengan informasi yang kupunya saat itu. Kalau dipikir-pikir sekarang, sayang juga. Sudah punya prestasi, tetapi belum tentu tahu bagaimana memanfaatkannya untuk masuk perguruan tinggi.

Pilihan pertamaku saat mendaftar SPMU adalah Matematika. Kenapa Matematika? Karena aku memang suka. Di kelas IPS, aku lumayan sering mendapat nilai 100. Guruku pada saat itu pun pernah bertanya, "Kenapa dulu tidak masuk jurusan IPA?". Karena bidang IPA lainnya nilainya amburadul, tidak karuan, pengaruh minat dan guru juga. Hehe. Rasanya, Matematika adalah pelajaran yang cukup kukuasai.

Belakangan baru kusadari, mungkin aku terlalu percaya diri. Hehe. Namanya juga Matematika IPS, tentu tidak bisa begitu saja dibandingkan dengan Matematika yang dipelajari anak-anak IPA. Tapi, waktu itu aku merasa mampu dan ingin mencoba.

Untuk pilihan kedua, awalnya aku sempat mempertimbangkan Ekonomi. Wajar saja, aku punya pengalaman di OSN Ekonomi dan cukup dekat dengan pelajaran itu. Namun, ada satu hal yang ikut menentukan keputusan: biaya kuliah, terutama uang pangkal. Uang pangkal Ekonomi lebih besar dibanding jurusan Sejarah. Akhirnya, Ekonomi tidak jadi kupilih melainkan Sejarah yang uang pangkalnya paling murah, 5 juta.

Lalu, kenapa Sejarah?

Salah satunya karena peluang juga. Waktu itu aku berpikir, jurusan Sejarah sepertinya tidak terlalu banyak diminati. Mungkin peluang masuknya lebih besar. Jadi, bisa dibilang aku memilih Sejarah karena pertimbangan yang cukup realistis, bukan karena sudah punya kecintaan mendalam terhadap sejarah.

Namun, sebenarnya ada target lain yang masih ingin kukejar saat itu: STAN.

STAN yang Terus Kucoba, Sejarah yang Tetap Kujalani

Keinginanku masuk STAN tidak muncul begitu saja. Kakak kandungku merupakan lulusan STAN pada era 1990-an. Meskipun jarak usia dan tahun kelulusan kami cukup jauh, pencapaian kakak menjadi inspirasi tersendiri bagiku. Kakakku inilah yang kelak mendukungku kuliah baik dari segi uang SPP tiap semester, biaya kos, dan biaya beli laptop. Namun, jasa orang tua tetap besar tentunya terutama biaya hidup tiap minggunya untuk makan, beli buku, serta uang pangkal awal kuliah.

Aku melihat STAN sebagai pilihan pendidikan yang menarik dan ingin mencoba mengikuti jejaknya.

Tentu, tantangan seleksi pada zamanku berbeda dengan yang dihadapi kakakku dulu. Aku tidak bisa sekadar menyamakan perjalanan kami. Namun, keberhasilannya sudah cukup menjadi alasan bagiku untuk mencoba.

Aku pun mendaftar STAN dua kali. Pertama, setelah mengikuti SPMU pada 2009. Saat itu aku masih berada di persimpangan pilihan kuliah dan mencoba membuka peluang melalui beberapa jalur.

Kesempatan kedua kucoba ketika sudah kuliah di jurusan Sejarah, tepatnya saat semester tiga.

Kalau dipikir-pikir sekarang, agak lucu juga. Aku sudah kuliah di Sejarah, tetapi masih berusaha mencari jalan lain. Seolah-olah kuliah Sejarah hanya menjadi tempat singgah sambil menunggu kesempatan masuk STAN. Hehe.

Waktu itu, mungkin aku memang belum benar-benar melihat Sejarah sebagai masa depan. Aku menjalaninya, tetapi masih berharap ada kemungkinan lain yang lebih sesuai dengan bayanganku saat itu.

Namun, rencana masuk STAN tidak terwujud. Aku tetap melanjutkan kuliah Sejarah sampai selesai. Jurusan yang awalnya kupilih sebagai alternatif, karena pertimbangan peluang dan biaya, justru menjadi bidang yang benar-benar kujalani.

Kadang, kita memang tidak langsung yakin dengan jalan yang sedang ditempuh. Kita masih melirik jalan lain, membandingkan pilihan, bahkan mencoba berbelok. Baru setelah waktu berjalan, kita menyadari bahwa pilihan yang semula dianggap cadangan ternyata menjadi jalan yang benar-benar kita lalui.

Tetapi, ada satu hal lain tentang Sejarah yang ternyata masih kuingat sejak SMA.

Guru Sejarah yang Membuatku Berpikir

Saat SMA, aku pernah diajar oleh seorang guru Sejarah senior. Beliau dikenal cukup killer. Ada satu kejadian di kelas yang sampai sekarang masih kuingat.

Suatu hari, beliau sedang membicarakan manusia yang kolot. Entah bagaimana awalnya, salah seorang temanku nyeletuk, “Bolot!”

Kebetulan, Bolot adalah nama panggilan teman kami yang lain. Mungkin temanku yang nyeletuk itu hanya bermaksud bercanda. Namanya juga anak SMA, kadang ada saja celetukan spontan yang menurut kami lucu. Benar, saat itu kami sekelas tertawa.

Sayangnya, guru kami tidak menganggapnya sebagai candaan. Beliau langsung marah dan memanggil teman yang nyeletuk tadi. Setelah itu, temanku dimarahi sampai kerah bajunya dicekik. Suasana menjadi horor. Hehe.

Aku masih ingat kejadian itu. Sebagai siswa, melihat guru melakukan hal seperti itu tentu meninggalkan kesan tersendiri. Aku tidak tahu apakah beliau masih mengingat peristiwa tersebut atau tidak. Bisa jadi baginya itu hanya salah satu kejadian selama mengajar. Namun, bagiku yang waktu itu masih duduk di bangku SMA, peristiwa tersebut cukup membekas.

Dari situlah muncul keinginan dalam diriku. Sederhana saja: kalau suatu hari nanti aku menjadi guru Sejarah, aku ingin menjadi guru yang lebih baik daripada beliau.

Waktu itu tentu aku belum berpikir jauh. Belum tahu bagaimana rasanya menghadapi puluhan siswa dalam satu kelas, menghadapi anak yang sulit diatur, atau mengajar ketika suasana kelas sedang tidak kondusif. Aku juga belum paham banyak hal tentang pendidikan. Aku hanya merasa tidak ingin menjadi guru yang membuat muridnya takut seperti yang kulihat saat itu.

Lucunya, ketika memilih Sejarah sebagai jurusan kuliah, aku tidak pernah membayangkan bahwa pengalaman dengan guru tersebut akan ikut membentuk caraku memandang profesi guru.

Ternyata Menjadi Guru Tidak Sesederhana Itu

Sekarang, setelah benar-benar menjadi guru Sejarah, aku baru mengerti bahwa menjadi guru memang tidak mudah.

Menghadapi siswa dengan karakter yang berbeda-beda kadang menguras kesabaran. Ada yang mudah diarahkan, ada yang perlu berkali-kali diingatkan, ada pula yang membuat kita harus berpikir keras mencari cara agar pembelajaran tetap berjalan. Kadang kita sendiri juga sedang lelah, tetapi tetap harus masuk kelas dan mengajar.

Aku pun tidak selalu berhasil menjadi guru yang ideal. Ada kalanya kesal, ada kalanya harus bersikap tegas, dan tentu masih banyak hal yang perlu kupelajari. Menjadi guru yang baik ternyata bukan sekadar soal tidak galak atau tidak marah-marah.

Namun, pengalaman semasa SMA itu sesekali mengingatkanku bahwa cara guru memperlakukan siswa bisa membekas lama. Materi pelajaran mungkin dilupakan, nilai ujian mungkin tidak lagi diingat, tetapi pengalaman diperlakukan dengan cara tertentu bisa tetap tinggal dalam ingatan.

Aku tidak ingin mengatakan bahwa guru harus selalu lembut atau membiarkan siswa melakukan apa saja. Guru tetap perlu tegas. Hanya saja, menurutku, tegas tidak harus sampai merendahkan atau menyakiti siswa.

Aku ingin siswa tetap menghormati guru, tetapi bukan semata-mata karena takut. Setidaknya, aku ingin mereka bisa belajar dengan nyaman, berani bertanya, dan tidak merasa bahwa membuat kesalahan sedikit saja akan berujung pada kemarahan yang berlebihan.

Kalau dipikir lagi, perjalanan menjadi guru Sejarah ini memang agak unik. Awalnya karena pilihan jurusan saat mendaftar kuliah. Ada pertimbangan peluang, ada urusan biaya, ada inspirasi dari kakak yang membuatku mengejar STAN, dan ada pengalaman masa SMA yang ternyata tidak benar-benar hilang.

Aku tidak tahu apakah tanpa kejadian itu aku tetap akan menjadi guru Sejarah atau justru memilih jalan yang lain. Hidup memang penuh kemungkinan yang tidak pernah kita ketahui.

Yang jelas, sekarang aku sudah berada di jalan ini. Dan keinginan yang muncul ketika masih SMA itu masih relevan untuk kuingat: aku ingin menjadi guru yang lebih baik.

Bukan berarti aku merasa sudah lebih baik daripada guru yang pernah mengajarku. Aku masih belajar, masih sering mengevaluasi diri, dan mungkin masih akan melakukan kesalahan. Bedanya, sekarang aku punya kesempatan untuk menentukan sendiri bagaimana aku ingin memperlakukan murid-muridku.

Jadi, mengapa aku menjadi guru Sejarah?

Awalnya, mungkin karena pilihan kedua, pertimbangan yang sederhana, dan rencana lain yang tidak terwujud. Aku bahkan sempat menganggap Sejarah hanya sebagai cadangan sambil mengejar STAN.

Tetapi, setelah menjalaninya, aku menemukan alasan untuk terus memperbaiki diri. Hehe.

Barangkali memang begitulah perjalanan hidup. Kita tidak selalu memulai sesuatu dengan alasan yang hebat. Kadang kita hanya memilih jalan yang tersedia, lalu belajar menemukan maknanya setelah berjalan cukup jauh.

Dan aku, yang dahulu memilih Sejarah sebagai pilihan kedua, sekarang justru punya satu alasan pribadi untuk tetap menjalaninya: aku ingin menjadi guru Sejarah yang lebih baik daripada sosok guru yang pernah membuatku berpikir tentang guru seperti apa yang tidak ingin kutiru.

Posting Komentar