Masuknya Jepang dan Jatuhnya Hindia Belanda
Apakah di daerah kalian dikenal istilah RT (Rukun Tetangga)? Tahukah kalian bahwa sistem RT yang dikenal di berbagai daerah di Indonesia sebenarnya berakar dari masa penjajahan Jepang? Sistem ini berasal dari tonarigumi yang juga pernah diterapkan di negara Jepang untuk memudahkan mengawasi dan mengatur penduduk.
Bisakah kalian menyebutkan warisan lain dari penjajahan Jepang yang masih ada hingga masa kini? Kalian bisa mencari tahu lebih lanjut untuk menjawab berbagai pertanyaan tersebut melalui berbagai sumber sejarah, baik sumber primer maupun sekunder.
Penjajahan Jepang di Indonesia berlangsung dalam waktu yang cukup singkat, yaitu hanya sekitar 3,5 tahun (1942-1945). Penjajahan itu berlangsung dalam konteks Perang Asia Timur Raya yang merupakan bagian dari Perang Dunia II. Bangsa Jepang memiliki keinginan untuk menguasai negeri-negara Asia Tenggara menggantikan negara Barat.
| Poster propaganda Jepang - Sumber: Image Bank WW2 – NIOD – Beldnummer 107190 |
Ekspansi Jepang dan Perang Asia Timur Raya
Sejak Restorasi Meiji pada abad ke-19, Jepang mengalami kemajuan yang pesat di bidang ekonomi, terutama industri. Jepang memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke Taiwan, Tiongkok, dan Korea. Pada tahun 1905 Jepang bahkan berhasil mengalahkan Rusia. Peristiwa ini menambah kepercayaan diri bangsa Jepang yang merasa dirinya lebih unggul dari bangsa Asia lainnya.
Pada saat yang sama, sebagian wilayah Asia Timur juga sudah dikuasai oleh bangsa Barat, seperti Inggris dan Amerika Serikat yang memiliki konsesi wilayah di Tiongkok.
Sejarah mencatat reaksi yang beragam. Bangsa Barat yang memiliki kepentingan kolonial tentu saja tidak senang dengan langkah Jepang memperluas kekuasaannya, terutama ke Tiongkok, Korea, dan Taiwan, begitu pula dengan bangsa-bangsa yang dijajah Jepang.
Belanda pada awalnya tidak terlibat konflik secara langsung dengan Jepang. Namun, sejak tahun 1930-an, Pemerintah Hindia Belanda sudah mengawasi dengan ketat aktivitas orang Jepang di wilayahnya.
Selain itu, penguasa kolonial juga menerapkan kontrol yang lebih ketat terhadap pergerakan kebangsaan di Indonesia. Kebangkitan Jepang sebagai salah satu kekuatan Asia turut memberikan inspirasi dan kepercayaan diri kepada tokoh nasionalis Indonesia. Slogan dan ideologi Asia untuk orang Asia juga semakin menyebar.
Beberapa tokoh pergerakan menunjukkan simpatinya terhadap Jepang, misalnya E.F.E. Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi) pada 1936 menulis buku Sejarah Dunia yang lebih mengedepankan peran orang Asia dalam sejarah. Namun, sebelum sempat terbit, buku ini sudah disita dan dilarang beredar oleh pemerintah kolonial karena dianggap pro Jepang dan anti Belanda (Surjomiharjo, 1995).
Selain itu, ada pula M.H. Thamrin yang dalam sidang Volksraad (Dewan Rakyat) tahun 1934 menunjukkan simpatinya kepada Jepang (Gonggong, 1995). Sikap para tokoh ini perlu dipahami dalam konteks sejarah di masa itu. Pada tahun 1930-an, mereka belum mengetahui bahwa Jepang ternyata tidak kalah eksploitatif dari Belanda saat menjajah.
Perang Dunia II dan Jatuhnya Hindia Belanda
Perang Dunia II mulai meletus pada September 1939. Belanda ikut terseret dalam perang ini. Pada Mei 1940, Jerman berhasil menduduki Belanda dan membuat Ratu Belanda beserta keluarganya mengungsi ke Inggris. Karena itulah, saat Inggris berperang dengan Jepang di Asia, Belanda dan koloninya pun akhirnya ikut terlibat.
Pada saat Amerika menghentikan suplai minyaknya untuk Jepang pada tahun 1941, pihak Jepang sebenarnya berusaha untuk melakukan negosiasi dengan pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan minyak. Namun, usaha ini gagal. Oleh karenanya, Jepang kemudian menyerang Indonesia untuk mendapatkan sumber daya alamnya.
Karena Jepang sangat memerlukan minyak bumi, Tarakan diserang Jepang pada 11 Januari 1942 karena wilayah ini dan sekitarnya kaya akan minyak. Jepang kemudian menyerang Balikpapan yang juga memiliki banyak ladang minyak.
Setelah menguasai ladang-ladang minyak di Kalimantan, Jepang kemudian melanjutkan ekspansinya ke wilayah Indonesia bagian timur seperti Ambon, Morotai, Manado, dan Kendari. Setelah berbagai wilayah di kawasan timur berhasil dikuasai, Jepang mengarahkan ekspansinya ke wilayah barat, yaitu ke Palembang yang juga kaya akan minyak. Jatuhnya Palembang ini membuka jalan bagi Jepang untuk menguasai Jawa.
Belanda sebagai penguasa di Jawa tidak bisa melakukan banyak perlawanan kepada Jepang. Meskipun pada saat itu Belanda adalah salah satu bagian dari sekutu, tapi negara-negara sekutu sibuk memikirkan kepentingan masing-masing dan tidak banyak menolong.
Negeri Belanda sedang diduduki oleh Jerman dan tidak bisa banyak membantu koloninya. Dengan demikian, Belanda tidak dapat mempertahankan Jawa. Panglima Angkatan Perang Hindia Belanda akhirnya menyerah kepada Jepang di Kalijati pada 8 Maret 1942.
Sumber : Buku Sejarah Kelas XI - Kurikulum Merdeka - Kemendikbudristek - 2021