Sejarah tidak sekadar cerita tentang masa lalu. Sejarah merupakan ilmu yang mempelajari kehidupan manusia pada masa lampau berdasarkan sumber dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, belajar sejarah bukan hanya menghafal nama tokoh dan tahun, tetapi memahami peristiwa, proses, perubahan, serta hubungan antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. (Sumber: Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, 2013)
Asal Kata Sejarah
Kata sejarah dalam bahasa Indonesia secara umum dikaitkan dengan kata Arab syajaratun yang berarti pohon. Dalam penggunaannya, istilah tersebut berkaitan dengan syajarah al-nasab atau pohon silsilah yang menggambarkan asal-usul dan hubungan keturunan. Istilah tersebut kemudian berkembang dalam bahasa Melayu menjadi syajarah dan selanjutnya menjadi "sejarah" dalam bahasa Indonesia.
Dalam bahasa Inggris, sejarah disebut history, yang berasal dari bahasa Yunani historia, berkaitan dengan penyelidikan atau pencarian pengetahuan. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya berkaitan dengan cerita masa lalu, tetapi juga dengan proses penyelidikan untuk mengetahui apa yang terjadi berdasarkan bukti. (Sumber: Universitas Terbuka, Ilmu Sejarah dalam PIPS, 2009)
Pengertian Sejarah Menurut Sejarawan
Para sejarawan memberikan penekanan yang berbeda ketika menjelaskan sejarah. Herodotus, sejarawan Yunani yang hidup pada abad ke-5 SM, dikenal melalui karya Historiai yang berisi hasil penyelidikan mengenai berbagai masyarakat dan peristiwa pada zamannya. Dari tradisi pemikiran Herodotus, sejarah berkembang sebagai usaha untuk menyelidiki dan menjelaskan pengalaman manusia pada masa lalu. (Sumber: Universitas Terbuka, Ilmu Sejarah dalam PIPS, 2009)
Kuntowijoyo memandang sejarah sebagai rekonstruksi masa lalu. Artinya, sejarawan berusaha membangun kembali gambaran tentang masa lalu berdasarkan jejak dan sumber yang masih tersedia. Misalnya, untuk menjelaskan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, sejarawan menggunakan berbagai sumber seperti dokumen, foto, kesaksian, dan arsip untuk merekonstruksi peristiwa tersebut. (Sumber: Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, 2013)
Dengan demikian, sejarah bukan sekadar masa lalu itu sendiri. Peristiwa masa lalu merupakan sesuatu yang telah terjadi, sedangkan ilmu sejarah merupakan usaha manusia untuk memahami dan merekonstruksi peristiwa tersebut berdasarkan sumber yang tersedia.
Manusia, Ruang, dan Waktu
Manusia merupakan unsur utama dalam sejarah karena manusia menjadi pelaku sekaligus bagian yang dikaji dalam berbagai peristiwa masa lalu. Aktivitas manusia dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, agama, maupun kehidupan sehari-hari dapat menjadi bagian dari kajian sejarah.
Sebagai contoh, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia merupakan peristiwa sejarah karena melibatkan manusia sebagai pelaku, seperti Soekarno, Mohammad Hatta, dan tokoh-tokoh lain yang terlibat dalam proses menuju proklamasi.
Ruang menunjukkan tempat berlangsungnya suatu peristiwa. Kondisi geografis, lingkungan, dan karakter suatu wilayah dapat memengaruhi kehidupan manusia sehingga suatu peristiwa sejarah tidak dapat dilepaskan dari tempat terjadinya.
Sebagai contoh, letak geografis Indonesia yang berada di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik serta di antara Benua Asia dan Australia berpengaruh terhadap perkembangan perdagangan dan hubungan antarmasyarakat sejak masa lalu. (Sumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Konsep-konsep Pembangun Ilmu Sejarah)
Waktu menunjukkan kapan suatu peristiwa berlangsung dan bagaimana peristiwa tersebut berkembang dari masa ke masa. Dalam sejarah, waktu tidak hanya berkaitan dengan tanggal dan tahun, tetapi juga dengan perubahan, perkembangan, dan keberlanjutan kehidupan manusia.
Contohnya, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung pada 17 Agustus 1945. Namun, untuk memahaminya secara historis, kita juga perlu melihat berbagai peristiwa yang mendahuluinya, seperti kekalahan Jepang, peristiwa Rengasdengklok, hingga penyusunan teks proklamasi. (Sumber: Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, 2013)
Kronologi
Kronologi adalah penyusunan peristiwa berdasarkan urutan waktu terjadinya. Kronologi membantu kita memahami hubungan antara suatu peristiwa dengan peristiwa lainnya serta menghindari kesalahan dalam menempatkan peristiwa pada waktunya.
Sebagai contoh, memahami Proklamasi Kemerdekaan akan lebih mudah jika peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengannya ditempatkan secara berurutan:
- Jepang menyerah kepada Sekutu pada Agustus 1945.
- Golongan muda mendesak agar kemerdekaan segera diproklamasikan.
- Soekarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945.
- Teks proklamasi dirumuskan di Jakarta.
- Proklamasi Kemerdekaan dibacakan pada 17 Agustus 1945.
Urutan tersebut membantu menunjukkan bahwa Proklamasi bukanlah peristiwa yang muncul secara tiba-tiba, melainkan bagian dari rangkaian peristiwa yang saling berkaitan. (Sumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Modul Sejarah Indonesia)
Diakronik
Cara berpikir diakronik melihat suatu peristiwa secara memanjang dalam waktu. Perhatian diberikan pada proses, perkembangan, dan perubahan yang terjadi dari satu waktu ke waktu berikutnya. (Sumber: Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, 2013)
Contohnya, jika kita mempelajari perkembangan nasionalisme Indonesia, pembahasannya dapat dimulai dari munculnya organisasi pergerakan seperti Budi Utomo, kemudian berkembang melalui Sarekat Islam, Indische Partij, Perhimpunan Indonesia, hingga Sumpah Pemuda. Peristiwa tersebut dilihat sebagai proses yang berkembang dari waktu ke waktu.
Ciri berpikir diakronik antara lain:
- memanjang dalam dimensi waktu;
- memperhatikan proses dan perkembangan;
- melihat perubahan dari waktu ke waktu;
- menggunakan kronologi untuk memahami rangkaian peristiwa.
Sinkronik
Cara berpikir sinkronik melihat suatu keadaan pada satu kurun waktu tertentu dengan memperluas perhatian pada berbagai aspek kehidupan masyarakat. Pendekatan ini dapat digunakan untuk melihat kondisi politik, ekonomi, sosial, dan budaya secara bersamaan. (Sumber: Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, 2013)
Sebagai contoh, ketika membahas kehidupan masyarakat Indonesia pada masa pendudukan Jepang, kita dapat mengkaji kondisi politik, ekonomi, pendidikan, sosial, dan militer masyarakat pada periode tersebut tanpa harus mengikuti perkembangannya dari tahun ke tahun.
Dengan demikian, perbedaan sederhananya adalah diakronik menekankan perkembangan dalam waktu, sedangkan sinkronik menekankan keluasan aspek dalam suatu waktu tertentu.
Perubahan dan Keberlanjutan
Kehidupan manusia selalu mengalami perubahan, tetapi tidak semua hal berubah secara bersamaan. Ada pula kebiasaan, nilai, lembaga, atau pola kehidupan yang tetap bertahan dalam jangka waktu tertentu. (Sumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Konsep-konsep Pembangun Ilmu Sejarah)
Contohnya dapat dilihat dalam perkembangan alat komunikasi. Masyarakat Indonesia dahulu menggunakan surat untuk berkomunikasi jarak jauh, kemudian berkembang menjadi telegram, telepon, telepon seluler, hingga komunikasi berbasis internet. Bentuk teknologinya berubah, tetapi kebutuhan manusia untuk berkomunikasi tetap berlanjut.
Konsep keberlanjutan dapat dilihat, misalnya, pada tradisi budaya yang tetap dilakukan masyarakat meskipun bentuk pelaksanaannya mengalami penyesuaian. Dengan melihat perubahan dan keberlanjutan secara bersamaan, kita dapat memahami bahwa kehidupan sejarah tidak selalu bergerak melalui perubahan yang sepenuhnya terputus dari masa sebelumnya.
Periodisasi
Periodisasi adalah pembabakan sejarah ke dalam periode-periode tertentu berdasarkan karakteristik atau perkembangan yang dianggap penting. Periodisasi membantu kita mempelajari rentang sejarah yang panjang agar lebih mudah dipahami.
Dalam pembelajaran sejarah Indonesia, misalnya, perjalanan sejarah dapat dibagi menjadi:
- Masa praaksara.
- Masa kerajaan Hindu-Buddha.
- Masa kerajaan Islam.
- Masa kolonialisme dan imperialisme.
- Masa pergerakan nasional.
- Masa pendudukan Jepang.
- Masa kemerdekaan.
Pembagian tersebut merupakan salah satu bentuk periodisasi. Sejarawan dapat menggunakan pembagian yang berbeda sesuai dengan tujuan dan sudut pandang penelitian yang digunakan. (Sumber: Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, 2013)
Sebab dan Akibat
Peristiwa sejarah tidak muncul begitu saja. Suatu peristiwa biasanya memiliki berbagai sebab atau latar belakang, kemudian menimbulkan akibat atau perubahan tertentu. Hubungan sebab dan akibat membantu sejarawan menjelaskan mengapa suatu peristiwa terjadi dan apa pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat.
Contohnya, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia memiliki latar belakang yang berkaitan dengan pendudukan Jepang, perkembangan pergerakan nasional, kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, serta dorongan tokoh-tokoh Indonesia untuk menentukan masa depan bangsa. Setelah proklamasi, muncul berbagai perubahan politik dan perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan. (Sumber: Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, 2013)
Satu peristiwa juga dapat memiliki banyak sebab dan menghasilkan berbagai akibat. Karena itu, hubungan sebab-akibat dalam sejarah perlu dipahami berdasarkan bukti dan konteks, bukan dengan menyederhanakan suatu peristiwa hanya menjadi satu penyebab.
Ruang Lingkup Sejarah
Sejarah memiliki ruang lingkup yang luas karena kehidupan manusia tidak hanya berkaitan dengan politik atau peperangan. Kajian sejarah dapat mencakup berbagai aspek kehidupan manusia selama aspek tersebut dapat dikaji melalui sumber dan metode sejarah. (Sumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Modul Belajar Mandiri Sejarah, 2021)
Beberapa ruang lingkup sejarah antara lain:
- Sejarah politik, membahas kekuasaan, pemerintahan, negara, dan berbagai proses politik.
- Sejarah sosial, membahas kehidupan dan hubungan antarkelompok masyarakat.
- Sejarah ekonomi, membahas kegiatan produksi, perdagangan, pekerjaan, dan kehidupan ekonomi.
- Sejarah budaya, membahas perkembangan nilai, tradisi, seni, bahasa, dan kebudayaan.
- Sejarah militer, membahas peperangan, strategi, organisasi, dan kehidupan militer.
- Sejarah pendidikan, membahas perkembangan lembaga, kebijakan, dan praktik pendidikan.
- Sejarah agama, membahas perkembangan kehidupan keagamaan dan lembaga keagamaan dalam konteks sejarah.
- Sejarah lokal, membahas peristiwa dan perkembangan masyarakat pada wilayah tertentu.
Misalnya, Sejarah Proklamasi Kemerdekaan dapat dikaji dari berbagai ruang lingkup sekaligus. Dari sisi politik dapat dibahas proses menuju kemerdekaan, dari sisi sosial dapat dikaji hubungan antara golongan muda dan tua, sedangkan dari sisi komunikasi dapat dikaji bagaimana berita proklamasi disebarkan ke berbagai wilayah Indonesia.
Sejarah sebagai Ilmu
Sejarah disebut sebagai ilmu karena memiliki objek kajian, metode, tujuan, dan prosedur tertentu untuk menghasilkan pengetahuan mengenai masa lalu. Objek utama sejarah adalah aktivitas manusia pada masa lampau, sedangkan sumber sejarah menjadi dasar untuk merekonstruksi peristiwa tersebut.
Dalam penelitian sejarah dikenal beberapa tahapan utama:
- Heuristik, yaitu mencari dan mengumpulkan sumber.
- Kritik sumber, yaitu menguji keaslian dan kredibilitas sumber.
- Interpretasi, yaitu menafsirkan fakta yang diperoleh.
- Historiografi, yaitu menuliskan hasil penelitian sejarah.
Sebagai contoh, ketika meneliti sejarah sebuah sekolah pada masa lalu, seorang peneliti dapat mencari arsip sekolah, foto lama, surat keputusan, berita koran, serta melakukan wawancara dengan orang yang mengalami atau mengetahui peristiwa tersebut. Sumber-sumber itu kemudian diperiksa, dibandingkan, ditafsirkan, dan disusun menjadi tulisan sejarah. (Sumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Modul Belajar Mandiri Sejarah, 2021)
Sejarah sebagai Peristiwa dan Kisah
Sejarah dapat dipahami sebagai peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lalu dan sebagai kisah atau rekonstruksi mengenai peristiwa tersebut. Peristiwa Proklamasi 17 Agustus 1945 merupakan kejadian historis yang berlangsung pada masa lalu, sedangkan tulisan sejarah tentang Proklamasi merupakan hasil usaha manusia untuk menjelaskan kembali peristiwa tersebut berdasarkan sumber. (Sumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Modul Belajar Mandiri Sejarah, 2021)
Perbedaan tersebut penting karena satu peristiwa dapat ditulis atau ditafsirkan oleh beberapa sejarawan dengan penekanan yang berbeda. Namun, penulisan sejarah tetap harus bertumpu pada bukti dan prosedur penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sejarah sebagai Seni
Selain sebagai ilmu, sejarah juga dapat dipandang sebagai seni. Sejarawan tidak cukup hanya mengumpulkan dan menganalisis sumber, tetapi juga perlu memiliki kemampuan untuk menyusun hasil penelitian menjadi tulisan yang jelas, menarik, dan mudah dipahami. Penyajian sejarah membutuhkan intuisi, imajinasi, dan kemampuan bahasa agar fakta-fakta yang ditemukan dapat dirangkai menjadi sebuah kisah yang bermakna tanpa mengubah atau mengarang fakta sejarah.
Sejarah sebagai seni bukan berarti sejarawan bebas berimajinasi dan menciptakan cerita. Imajinasi digunakan untuk membantu memahami hubungan antara fakta-fakta yang tersedia, sedangkan isi tulisan tetap harus berlandaskan sumber dan hasil penelitian. Misalnya, ketika menulis tentang suasana Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, sejarawan dapat menggambarkan ketegangan dan suasana di sekitar peristiwa berdasarkan kesaksian, foto, dokumen, dan sumber lain yang tersedia, bukan berdasarkan cerita yang dibuat sendiri.
Dengan demikian, sejarah sebagai ilmu berkaitan dengan proses penelitian dan pembuktian, sedangkan sejarah sebagai seni berkaitan dengan kemampuan menyampaikan hasil penelitian tersebut secara hidup dan komunikatif. Keduanya saling melengkapi agar pengetahuan sejarah tidak hanya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, tetapi juga dapat dipahami oleh pembaca. (Sumber: Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, 2013)
Manfaat Mempelajari Sejarah
Sejarah memiliki manfaat bagi kehidupan manusia karena pengalaman masa lalu dapat digunakan untuk memahami kehidupan sekarang. Dalam pembelajaran sejarah, manfaat tersebut antara lain berkaitan dengan fungsi edukatif, inspiratif, instruktif, dan rekreatif.
- Edukatif berarti sejarah memberikan pembelajaran dari pengalaman manusia pada masa lalu. Misalnya, mempelajari berbagai konflik masa lalu dapat membantu kita memahami pentingnya penyelesaian masalah secara damai.
- Inspiratif berarti sejarah dapat memberikan inspirasi melalui pengalaman, perjuangan, dan pencapaian manusia pada masa lalu. Kisah perjuangan tokoh dan masyarakat dalam mempertahankan kemerdekaan, misalnya, dapat menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.
- Instruktif berarti sejarah dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman yang dapat digunakan untuk memahami suatu persoalan. Mempelajari perkembangan suatu kebijakan pada masa lalu, misalnya, dapat membantu kita memahami latar belakang munculnya kebijakan pada masa berikutnya.
- Rekreatif berarti sejarah juga dapat memberikan pengalaman yang menarik ketika dipelajari melalui kunjungan ke museum, situs sejarah, membaca kisah masa lalu, atau melihat koleksi arsip dan benda peninggalan sejarah. (Sumber: Wasino, Dari Riset hingga Tulisan Sejarah, 2007)
Pada akhirnya, mempelajari sejarah membantu manusia memahami bahwa kehidupan sekarang merupakan bagian dari proses yang panjang. Dengan memahami manusia, ruang, waktu, kronologi, diakronik, sinkronik, perubahan, keberlanjutan, periodisasi, sebab-akibat, serta berbagai ruang lingkup sejarah, kita dapat melihat masa lalu secara lebih kritis dan tidak sekadar menghafal peristiwa.
