Selamat datang di website KronikAku, Hubungi Kami jika ada keperluan kerjasama. Kunjungi halaman Virtual Museum untuk menjelajah ke museum favoritmu!

Proses Masuk dan Berkembangnya Agama dan Kebudayaan Islam di Indonesia






Pada Bab sebelumnya, kita sudah mempelajari tentang perkembangan agama dan kebudayaan Hindu dan Buddha di Nusantara. Jalur Rempah yang merupakan jalur perdagangan utama menjadi salah satu pintu masuk agama dan kebudayaan Hindu dan Buddha. Di antara banyaknya pedagang yang datang ke Nusantara, pedagang muslim merupakan salah satu yang memiliki peran penting dalam persebaran agama dan kebudayaan Islam di Nusantara.

Teori masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia

Teori Arab

Teori ini dikemukakan oleh J.C. Van Leur, T.W. Arnold, dan Groeneveldt. Menurut teori ini, agama Islam yang berkembang di Indonesia dibawa oleh para pedagang Arab pada abad VII M. Buktinya adalah adanya permukiman Islam tahun 674 di Baros, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pantai barat Sumatra

Barus, Kota Islam Pertama di Indonesia pada Abad ke 7 M
(https://daerah.sindonews.com/berita/1249657/29/barus-kota-islam-pertama-di-indonesia)

Menyangkal teori Gujarat, teori Arab meyakini Islam yang berkembang di Samudera Pasai menganut mazhab Syafi'i, mazhab besar di Mesir dan Makkah pada saat itu. Adapun daerah Gujarat menganut mazhab Hanafi. 

Selain itu, para sultan Pasai menggunakan gelar al-malik, gelar yang lazim dipakai di Mesir pada saat itu. 

Makam Fatimah binti Maimun (berangka tahun 1082) yang ditemukan di Gresik. Jawa Timur, juga menjadi petunjuk bahwa Islam telah berkembang di Nusantara sebelum abad XII.

Situs Makam Tertua se-Asia Tenggara Fatimah Binti Maimun
(kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Teori Persia

Teori ini didukung oleh Husein Djajadiningrat. Menurut teori ini, Islam di Indonesia dibawa masuk oleh orang-orang Persia sekitar abad XIII. Hal ini dibuktikan dengan adanya aliran Syiah di Nusantara. Beberapa tradisi Syiah juga dilakukan di Indonesia, seperti peringatan Tabut/Tabuik setiap tanggal 10 Muharam atau 1 Asyura untuk memperingati wafatnya Hasan dan Husein, cucu Nabi Muhammad SAW, di Sumatra Barat dan Bengkulu. Upacara ini juga merupakan ritual tahunan di Persia.

Tradisi Tabot yang diadakan setiap tahun pada 1-10 Muharam di Bengkulu.
(Wikimedia Commons/Muhammad Ikhsan)

Teori Gujarat

Makam Sultan Malik As-Saleh
(Sumber: steemit.com)

Teori ini dikemukakan oleh Snouck Hurgronje, W.F. Sutterheim, dan B.H.M. Vlekke. Menurut teori ini, agama Islam yang ada di Indonesia bukanlah berasal dari Arab, melainkan dari Gujarat, India. Hal ini dibuktikan dari batu nisan Sultan Malik Al-Saleh, Sultan Samudera Pasai (meninggal tahun 1297 M), yang bercorak Gujarat

Selain itu, berdasarkan berita Marco Polo, saudagar Venesia yang dalam perjalanannya pernah singgah di Perlak (Peureulak) pada 1292, banyak terdapat penduduk lokal yang beragama Islam. Para pedagang India berperan dalam penyebaran agama tersebut.

Rute Perjalanan Marco Polo ke Nusantara
(https://riaupagi.com/news/petualangan-marco-polo-berkelana-diplosok-asia-sebagai-bukti-penduduk-di-nusantara-telah-beragama-islam-202410038191/)

Faktor yang menyebabkan mudahnya penyebaran Islam di Indonesia

Sumber Gambar: https://buguruku.com/mengapa-islam-mudah-berkembang-di-indonesia-faktor-faktor-utama-di-balik-penyebaran-agama-islam-di-nusantara/

  • Penyebaran agama Islam dilakukan dengan jalan damai, tanpa paksaan ataupun peperangan.
  • Syarat penerimaan untuk memeluk Islam sangatlah mudah, yakni dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.
  • Upacara keagamaan dalam agama Islam sifatnya sederhana.
  • Dalam Islam, setiap manusia mempunyai kedudukan yang sama. Hal yang membedakan hanyalah amal ibadahnya.
  • Penganutnya mempunyai kewajiban untuk melakukan dakwah.
  • Kondisi kerajaan Hindu-Buddha mengalami kemunduran.

Saluran Penyebaran Islam di Indonesia

Peta Konsep Gemini

Perdagangan

Perdagangan adalah saluran penyebaran Islam yang paling pertama dan utama. Menurut Tome Pires, sekitar abad VII-XVI M, lalu lintas perdagangan di Nusantara sangat ramai. Pada proses ini, para pedagang Nusantara berinteraksi dengan para pedagang asing, termasuk para pedagang Islam dari Gujarat (India) atau Timur Tengah (Mesir dan Arab), yang kemudian saling bertukar pengaruh. 

Para pedagang Islam kemudian bermukim di perkampungan pesisir di Nusantara. Lama-kelamaan, jumlah mereka makin banyak. Islam pun mulai dikenal oleh penduduk Nusantara. Karakteristik penduduk pesisir yang terbuka terhadap hal-hal baru turut mempermudah penyebaran agama Islam. 

Para pedagang Islam juga berinteraksi dengan penguasa setempat. Hal ini membuat mereka secara perlahan masuk ke lingkaran pusat kekuasaan. Ketika raja-raja dan para bangsawan memeluk Islam. rakyatnya pun dengan mudah mengikuti. Hal ini menjelaskan alasan kerajaan-kerajaan Islam Nusantara, seperti Samudera Pasai. Demak, Cirebon, Ternate, dan Tidore berawal dari wilayah pesisir.

Pernikahan 

Para pedagang Islam yang bermukim di Nusantara kemudian menikah dengan perempuan-perempuan pribumi, baik rakyat biasa maupun bangsawan. Hal ini berdampak positif terhadap penyebaran agama Islam. Para pedagang yang menikahi para perempuan pribumi mensyaratkan mereka untuk terlebih dahulu memeluk Islam. Anak-anak hasil pernikahan mereka pun cenderung mengikuti agama yang dianut orang tuanya. 

Perkawinan dengan kaum bangsawan memiliki dampak yang signifikan. Mereka lebih mudah memengaruhi istana untuk mendukung penyebaran Islam. Lama-kelamaan, seluruh anggota istana memeluk agama Islam. Kerajaan yang awalnya bercorak Hindu-Buddha perlahan-lahan menjadi bercorak Islam.

Pendidikan

Perkembangan Islam yang makin luas mendorong munculnya para ulama dan mubalig. Mereka menyebarkan Islam melalui pendidikan dengan mendirikan pondok-pondok pesantren. Di pondok pesantren, para santri datang dari berbagai daerah untuk menimba ilmu keislaman. Setelah lulus dari pesantren, mereka kemudian menyebarkan Islam di daerah asal mereka. Contoh pesantren tersebut, antara lain Pesantren Sunan Giri (Surabaya) yang didirikan oleh Sunan dari Giri. Santri pesantren ini banyak yang berasal dari Maluku. Saluran ini sangat efektif untuk memperluas penyebaran Islam hingga ke daerah terpencil.

Tasawuf

Ajaran tasawuf banyak dijumpai pada cerita babad dan hikayat. Ajaran ini mudah berkembang karena ajaran agama Islam melalui tasawuf disesuaikan dengan pola pikir masyarakat yang masih berorientasi agama Hindu. Tokoh penyebar Islam melalui tasawuf, antara lain Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, Nuruddin ar-Raniri. dan Sunan Bonang.

Kesenian

Agama Islam juga disebarkan melalui kesenian, antara lain seni pertunjukan wayang yang digunakan oleh Sunan Kalijaga dan seni musik gamelan yang digunakan oleh Sunan Bonang. Kesenian yang sebelumnya telah berkembang tidak dilarang, tetapi diperkaya dengan nilai-nilai keislaman.

Ulama Penyebar Islam di Indonesia 

Proses penyebaran Islam di Indonesia atau islamisasi tidak terlepas dari peran para pedagang, mubalig atau ulama, raja, dan bangsawan atau para adipati. 

Jawa

Di Pulau Jawa, peranan mubalig dan ulama tergabung dalam kelompok para wali yang dikenal dengan sebutan Wali Sanga atau Wali Sembilan, yaitu sebagai berikut.
  1. Maulana Malik Ibrahim yang dikenal dengan nama Syekh Maghribi atau Sunan Gresik menyebarkan Islam di Jawa Timur. Beliau wafat dan dimakamkan di Gresik pada 1419.
  2. Sunan Ampel memiliki nama asli Raden Rahmat, menyebarkan Islam di daerah Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Beliau adalah putra dari Sunan Gresik sekaligus pendiri Pesantren Ampel Denta (Surabaya).
  3. Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel. Beliau memiliki nama asli Maulana Makdum Ibrahim. Beliau menyebarkan Islam di Bonang. Tuban, Jawa Timur. Beliau berdakwah lewat media kesenian, yakni alat musik bonang. Beliau wafat pada 1525.
  4. Sunan Drajat adalah putra dari Sunan Ampel, yang memiliki nama asli Syarifuddin. Beliau menyebarkan agama Islam di daerah Gresik atau Sedayu, Jawa Timur. Beliau menciptakan gending Jawa, "pangkur
  5. Sunan Giri memiliki nama asli Raden Paku. Beliau merupakan salah satu santri Sunan Ampel yang kemudian mendirikan Pesantren Giri. Santrinya banyak yang berasal dari luar Jawa, termasuk Maluku. Beliau juga seorang seniman yang menciptakan gending Jawa, "asmaradana" dan "pucung". Beliau menyebarkan agama Islam di daerah Bukit Giri, Gresik, Jawa Timur.
  6. Sunan Kudus memiliki nama asli Syekh Ja'far Shodik, menyebarkan agama Islam di daerah Kudus, Jawa Tengah. Dalam berdakwah. beliau toleran terhadap nilai-nilai agama pra-Islam. Sebagai contoh, beliau melarang pengurbanan sapi dalam perayaan Iduladha. Sapi dipandang hewan suci bagi penganut Hindu. Sebagai gantinya, beliau menyarankan berkurban dengan kerbau.
  7. Sunan Kalijaga memiliki nama asli Raden Mas Syahid atau R. Setya. Beliau menyebarkan agama Islam di daerah Demak, Jawa Tengah. Beliau juga dikenal sebagai sunan yang memanfaatkan media kesenian dalam berdakwah, yakni wayang.
  8. Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga. Beliau memiliki nama asli Raden Prawata. Beliau menyebarkan agama Islam di daerah Gunung Muria, Jawa Tengah. Sama seperti ayahnya, Sunan Muria juga berdakwah lewat kesenian. "sinom" dan "kinanti" yang merupakan gending Jawa hasil kreasinya.
  9. Sunan Gunung Jati memiliki nama asli Syarif Hidayatullah. Beliau menyebarkan Islam di Cirebon, Jawa Barat.
Sumber: https://www.liputan6.com/hot/read/5438620/nama-asli-wali-songo-dan-asalnya-dari-sunan-gresik-hingga-sunan-gunung-jati

Sulawesi Selatan

  • Dato Ri Bandang:
  • Dato Ri Tiro:
  • Dato Patimang.

Sumatra

Kalimantan

  • Tuan Tunggang Parang

Baca juga :

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.