Kalau kita menengok ke masa sekolah dulu, ada satu metode belajar yang hampir semua siswa pernah alami: merangkum. Dari SD sampai SMA, guru sering memberi tugas “rangkum bab ini” atau bahkan “rangkum semua bab sampai selesai.” Kadang tugas itu terasa ringan, tapi sering juga membuat kepala pusing, tangan pegal, dan pikiran lelah. Pertanyaannya, di era sekarang, apakah metode merangkum masih relevan?
Merangkum, Antara Belajar atau Sekadar Menyalin?
Secara teori, merangkum itu bagus. Kita belajar memilah informasi penting, lalu menuliskannya dengan kata-kata sendiri. Itu bisa melatih kemampuan memahami sekaligus mengekspresikan ulang.
Tapi kenyataan di lapangan sering berbeda. Banyak siswa akhirnya hanya menyalin dari buku ke buku catatan, tanpa benar-benar memahami isi bacaan. Alih-alih berpikir kritis, yang dilatih justru daya tahan tangan menulis.
Ketika Merangkum Jadi Beban
Tugas merangkum sering kali tidak melihat konteks. Misalnya, siswa diminta merangkum satu bab tebal yang penuh teori. Hasilnya? Anak capek, bosan, bahkan bisa kehilangan motivasi belajar.
Lebih parah lagi, ada kasus penilaian catatan yang dinilai bukan dari isi, tapi dari kerapian, banyaknya halaman, atau hiasan warna-warni. Jadi yang dapat nilai bagus bukan anak yang paling paham, tapi anak yang paling rajin menyalin.
Relevansi dengan Zaman Digital
Kita hidup di era digital, di mana informasi bisa diakses cepat lewat internet. Anak-anak sekarang terbiasa dengan ringkasan instan—video singkat, infografis, atau artikel yang padat tapi jelas. Lalu apakah tugas merangkum manual berlembar-lembar masih cocok?
Bukan berarti merangkum harus ditinggalkan. Justru bisa dimodifikasi:
-
Merangkum digital lewat mind map, slide presentasi, atau blog.
-
Diskusi ringkasan: siswa membuat poin penting lalu menjelaskannya ke teman.
-
Merangkum kritis: bukan sekadar menyalin, tapi menambahkan opini atau contoh nyata.
Catatan Akhir
Merangkum seharusnya jadi sarana untuk melatih keterampilan berpikir, bukan sekadar formalitas atau hukuman. Jika masih dilakukan dengan cara lama—menyalin panjang lebar tanpa pemahaman—maka jelas metode ini tidak lagi relevan dengan kebutuhan zaman.
Namun, jika dimodifikasi menjadi lebih kritis, kreatif, dan sesuai konteks digital, merangkum justru bisa tetap menjadi alat belajar yang kuat.