Historiografi dan Perkembangan Penulisan Sejarah | Sejarah Kelas X

Historiografi: Pengertian, Perkembangan: Historiografi Tradisional, Historiografi Kolonial, Historiografi Nasional, dan Historiografi Komtemporer.


Sejarah yang kita baca dalam buku pelajaran merupakan hasil penulisan berdasarkan sumber dan penelitian. Namun, pernahkah kamu berpikir mengapa suatu peristiwa bisa diceritakan dengan sudut pandang yang berbeda oleh penulis yang berbeda?

Misalnya, perlawanan masyarakat Nusantara terhadap kekuasaan kolonial dapat ditulis sebagai perjuangan mempertahankan tanah air. Sebaliknya, catatan pemerintah kolonial pada masa itu mungkin menyebutnya sebagai pemberontakan. Peristiwa yang dibicarakan bisa sama, tetapi sudut pandang penulisnya berbeda.

Perbedaan tersebut berkaitan dengan historiografi, yaitu penulisan sejarah yang berkembang mengikuti zaman, kepentingan, sumber, dan cara pandang penulisnya.

Apa Itu Historiografi?

Historiografi adalah penulisan sejarah yang menyajikan hasil penelitian dan penafsiran terhadap sumber-sumber sejarah. Historiografi merupakan tahap akhir dalam metode penelitian sejarah, setelah pengumpulan sumber, verifikasi, dan interpretasi.

Melalui historiografi, fakta-fakta sejarah disusun menjadi uraian yang runtut sehingga pembaca dapat memahami suatu peristiwa, latar belakangnya, serta dampaknya.

Penulisan sejarah tidak terlepas dari sudut pandang penulis. Latar belakang, kondisi politik, nilai yang dianut, dan ketersediaan sumber dapat memengaruhi cara suatu peristiwa dijelaskan. Karena itu, membaca sejarah secara kritis berarti tidak hanya memperhatikan apa yang ditulis, tetapi juga siapa yang menulis dan berdasarkan sumber apa.

Historiografi Tradisional: Sejarah yang Berpusat pada Kerajaan

Historiografi tradisional berkembang dalam masyarakat Nusantara setelah dikenal tradisi tulis, termasuk pada masa kerajaan Hindu-Buddha dan kerajaan Islam. Karya sejarah pada masa ini antara lain berbentuk prasasti, babad, hikayat, dan kronik.

Contohnya adalah Babad Tanah Jawi, yang memuat kisah raja-raja dan kerajaan di Jawa, serta Nagarakretagama, karya Mpu Prapanca yang menggambarkan Kerajaan Majapahit pada abad ke-14.

Historiografi tradisional memiliki beberapa ciri. Pertama, istana-sentris, yaitu penulisan yang banyak berpusat pada raja, keluarga kerajaan, dan kehidupan istana. Kedua, religio-magis, yaitu adanya unsur keagamaan, kepercayaan, atau kesaktian dalam cerita. Ketiga, penulisan sering berkaitan dengan legitimasi kekuasaan, pelestarian silsilah, dan nilai budaya masyarakat.

Karya-karya tersebut tetap penting sebagai sumber sejarah dan warisan budaya. Akan tetapi, isinya perlu dikaji secara kritis karena unsur simbolis, legenda, dan fakta sejarah dapat bercampur. Peneliti perlu membandingkannya dengan prasasti, benda arkeologis, atau sumber lain.

Historiografi Kolonial: Sejarah dari Sudut Pandang Penjajah

Historiografi kolonial berkembang ketika penulisan sejarah banyak dilakukan oleh penulis dan pejabat Eropa pada masa kolonial. Penulisannya cenderung menempatkan kepentingan serta pengalaman bangsa Eropa sebagai pusat cerita.

Salah satu contohnya adalah The History of Java, karya Thomas Stamford Raffles yang pertama kali diterbitkan pada 1817. Karya tersebut membahas masyarakat, kebudayaan, dan sejarah Jawa dari sudut pandang seorang pejabat Inggris pada masa kolonial.

Historiografi kolonial umumnya menonjolkan peran pemerintah kolonial, aktivitas politik, dan kepentingan ekonomi. Perlawanan penduduk Nusantara terkadang digambarkan sebagai gangguan terhadap kekuasaan kolonial, sementara pengalaman masyarakat yang dijajah kurang mendapat perhatian.

Hal ini tidak berarti seluruh informasi dalam karya kolonial salah. Dokumen dan tulisan kolonial tetap dapat memberikan informasi penting, misalnya tentang administrasi, perdagangan, dan kehidupan masyarakat pada zamannya. Namun, peneliti harus mempertimbangkan tujuan penulisan, posisi penulis, dan kepentingan yang mungkin memengaruhi narasinya.

Historiografi Nasional: Menempatkan Bangsa Indonesia sebagai Subjek Sejarah

Setelah Indonesia merdeka, muncul kebutuhan untuk menulis sejarah dari perspektif bangsa Indonesia sendiri. Historiografi nasional berkembang sebagai upaya mengoreksi dominasi sudut pandang kolonial sekaligus menjelaskan perjalanan bangsa menuju kemerdekaan.

Dalam pendekatan ini, masyarakat Indonesia tidak lagi hanya digambarkan sebagai objek kekuasaan bangsa asing, tetapi sebagai pelaku yang memiliki peran dalam membentuk sejarahnya sendiri.

Perjuangan kemerdekaan, pergerakan nasional, peran organisasi, dan pengalaman masyarakat Indonesia menjadi bagian penting dalam penulisan sejarah. Pendekatan ini dikenal sebagai Indonesia-sentris, yaitu menempatkan pengalaman dan peran bangsa Indonesia sebagai pusat pembahasan.

Perkembangan historiografi nasional mendapat momentum penting melalui Seminar Sejarah Nasional Indonesia pertama di Yogyakarta pada 1957.

Meskipun demikian, penulisan sejarah nasional juga perlu dilakukan secara kritis. Semangat kebangsaan tidak boleh membuat penulis mengabaikan fakta yang tidak sesuai dengan narasi tertentu. Sejarah tetap perlu disusun berdasarkan bukti, termasuk ketika membahas konflik, perbedaan kepentingan, dan pengalaman kelompok masyarakat yang beragam.

Historiografi Kontemporer: Memperluas Perspektif Sejarah

Penulisan sejarah terus berkembang seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan perubahan masyarakat. Dalam historiografi kontemporer, perhatian terhadap sejarah tidak hanya tertuju pada raja, pejabat, dan tokoh politik, tetapi juga pada pengalaman kelompok masyarakat yang sebelumnya kurang mendapat ruang.

Sejarawan dapat mengkaji sejarah perempuan, buruh, petani, pendidikan, lingkungan, kesehatan, kehidupan sehari-hari, hingga sejarah lokal. Penelitian juga dapat memanfaatkan pendekatan ilmu sosial, seperti sosiologi, antropologi, ekonomi, dan geografi.

Sebagai contoh, sejarah sebuah kota tidak hanya dapat ditulis melalui pergantian pemimpin dan pembangunan gedung pemerintahan. Peneliti juga dapat mengkaji perubahan pasar, sungai, permukiman, mata pencaharian, dan kehidupan masyarakatnya.

Sumber sejarah pun semakin beragam. Selain arsip tertulis, peneliti dapat menggunakan foto, rekaman suara, film, wawancara, dan arsip digital. Meskipun demikian, sumber baru tetap harus diuji keaslian dan kredibilitasnya.

Historiografi kontemporer bukan berarti semua tulisan sejarah pasti lebih benar daripada tulisan terdahulu. Perkembangannya justru membuka ruang untuk menguji kembali penafsiran lama, menemukan sumber baru, dan menghadirkan perspektif yang lebih beragam.

Mengapa Penulisan Sejarah Bisa Berubah?

Perkembangan historiografi menunjukkan bahwa cara manusia menulis sejarah dapat berubah ketika ditemukan sumber baru, berkembang metode penelitian, atau muncul pertanyaan yang sebelumnya belum banyak dibahas.

Bayangkan sebuah peristiwa perlawanan terhadap kolonialisme. Penulis kolonial mungkin menekankan sudut pandang pemerintah penjajah. Penulis nasional kemudian menyoroti perjuangan masyarakat Indonesia. Peneliti masa kini dapat memperluas pembahasan dengan mengkaji pengalaman perempuan, kondisi ekonomi, kehidupan masyarakat setempat, dan dampak perlawanan bagi generasi berikutnya.

Perbedaan sudut pandang tersebut tidak otomatis berarti salah satu tulisan harus ditolak seluruhnya. Setiap karya perlu dinilai berdasarkan pertanyaan penelitian, kualitas sumber, metode, dan kekuatan argumennya.

Dengan demikian, belajar historiografi mengajarkan kita bahwa sejarah bukan sekadar kumpulan cerita masa lalu. Sejarah merupakan pengetahuan yang terus dikaji melalui penelitian, perdebatan, dan penemuan bukti baru.

Referensi

  • Hasnawati. (2020). Modul Pembelajaran SMA Sejarah Kelas X: Ciri-Ciri Historiografi Tradisional, Kolonial dan Modern. Direktorat SMA, Kemendikbud. Baca modul resmi
  • Aprilia, Mona. Dinamika Perkembangan Historiografi di Indonesia. Hadharah: Jurnal Keislaman dan Peradaban. Baca artikel ilmiah
  • Utama, Wildan Sena. Ke Mana Arah Historiografi Indonesia Hari Ini? Lembaran Sejarah, Universitas Gadjah Mada. Baca artikel ilmiah

Posting Komentar